Guardat en:
| Autor principal: | |
|---|---|
| Format: | Recurso digital |
| Idioma: | |
| Publicat: |
Zenodo
2024
|
| Matèries: | |
| Accés en línia: | https://doi.org/10.5281/zenodo.14201735 |
| Etiquetes: |
Afegir etiqueta
Sense etiquetes, Sigues el primer a etiquetar aquest registre!
|
| _version_ | 1866901044872609792 |
|---|---|
| author | Epafras, Leonard Chrysostomos |
| author_facet | Epafras, Leonard Chrysostomos |
| contents | <p>The downloadable article: <a href="https://s.id/E-Klesiologi">https://s.id/E-Klesiologi</a></p> <p>Orang Kristen dan gereja menghadapi zaman yang rumit dan menantang. Para pakar menyebutnya sebagai VUCA, yaitu zaman yang kita jalani penuh tanjakan dan turunan, fluktuasi hidup, sebagai kondisi volatilitas (volatility), serba tidak pasti (uncertainty), rumit dan kompleks (complexity), dan banyak terjadi ambiguitas (ambiguity), yaitu kita tidak bisa memastikan hasil yang sesuai dengan harapan, maupun munculnya konsekuensi tak terduga. Kondisi ini dipertajam melalui pesatnya teknologi digital dan artificial intelligence (AI), kecerdasan artifisial. Inilah kondisi gereja diaspora di "negeri asing." Tulisan ini tidak menawarkan solusi, namun mengurainya serta mendorong transformasi gereja, khususnya HKBP. Di dalamnya didiskusikan ketegangan antara chaos (kekacauan) dan cosmos (keteraturan), melalui wacana chaosmos, serta menawarkan model eklesiologi terbuka (open ecclesiology), melalui e-klesiologi, eklesiologi berbasis digital dan analog. Eklesiologi ini menuntut kemauan kita semua senantiasa fleksibel, lentur, dan adaptif, sambil tetap mempertahankan koinonia. Sebab gereja tidak bisa so yesterday, mengglorifikasi masa lalu tapi juga tidak bisa so tomorrow, terlalu canggih. Ia harus merangkul beragam pengalaman anggota tubuh Kristus, maupun beragam temporalitas mereka.</p> |
| format | Recurso digital |
| id | zenodo_https___doi_org_10_5281_zenodo_14201735 |
| institution | Zenodo |
| language | |
| publishDate | 2024 |
| publisher | Zenodo |
| record_format | zenodo |
| spellingShingle | Open Ecclesiology/E-Klesiologi Menuju Indonesia 4.0 dalam ketegangan Chaosmos Epafras, Leonard Chrysostomos Ecclesiology Digital Religion Religion Online Online Religion Digital Church Digital Ecclesiology <p>The downloadable article: <a href="https://s.id/E-Klesiologi">https://s.id/E-Klesiologi</a></p> <p>Orang Kristen dan gereja menghadapi zaman yang rumit dan menantang. Para pakar menyebutnya sebagai VUCA, yaitu zaman yang kita jalani penuh tanjakan dan turunan, fluktuasi hidup, sebagai kondisi volatilitas (volatility), serba tidak pasti (uncertainty), rumit dan kompleks (complexity), dan banyak terjadi ambiguitas (ambiguity), yaitu kita tidak bisa memastikan hasil yang sesuai dengan harapan, maupun munculnya konsekuensi tak terduga. Kondisi ini dipertajam melalui pesatnya teknologi digital dan artificial intelligence (AI), kecerdasan artifisial. Inilah kondisi gereja diaspora di "negeri asing." Tulisan ini tidak menawarkan solusi, namun mengurainya serta mendorong transformasi gereja, khususnya HKBP. Di dalamnya didiskusikan ketegangan antara chaos (kekacauan) dan cosmos (keteraturan), melalui wacana chaosmos, serta menawarkan model eklesiologi terbuka (open ecclesiology), melalui e-klesiologi, eklesiologi berbasis digital dan analog. Eklesiologi ini menuntut kemauan kita semua senantiasa fleksibel, lentur, dan adaptif, sambil tetap mempertahankan koinonia. Sebab gereja tidak bisa so yesterday, mengglorifikasi masa lalu tapi juga tidak bisa so tomorrow, terlalu canggih. Ia harus merangkul beragam pengalaman anggota tubuh Kristus, maupun beragam temporalitas mereka.</p> |
| title | Open Ecclesiology/E-Klesiologi Menuju Indonesia 4.0 dalam ketegangan Chaosmos |
| topic | Ecclesiology Digital Religion Religion Online Online Religion Digital Church Digital Ecclesiology |
| url | https://doi.org/10.5281/zenodo.14201735 |