Saved in:
| Main Authors: | , , |
|---|---|
| Format: | Recurso digital |
| Sprog: | |
| Udgivet: |
Zenodo
2025
|
| Online adgang: | https://doi.org/10.5281/zenodo.17635663 |
| Tags: |
Tilføj Tag
Ingen Tags, Vær først til at tagge denne postø!
|
Indholdsfortegnelse:
- <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Ikan coelacanth Indonesia, <em>Latimeria menadoensis</em>, telah lama dianggap sebagai satu populasi tunggal yang tersebar di perairan Sulawesi dan sekitarnya. Artikel ini menyintesis penemuan-penemuan terkini yang secara fundamental mengubah pemahaman kita tentang spesies ini. Tinjauan ini mengkaji ulang data genetik dan survei lapangan yang mengungkap divergensi molekuler yang luar biasa dalam di dalam spesies yang saat ini diakui. Analisis DNA mitokondria dari spesimen yang ditemukan di Papua, sekitar 750 km dari lokasi penemuan asli di Sulawesi, menunjukkan perbedaan genetik sebesar 1,8%, sangat kontras dengan divergensi intraspesifik yang sangat rendah (0,04%) pada kerabatnya di Afrika, <em>L. chalumnae</em>. Penanggalan molekuler memperkirakan bahwa kedua garis keturunan Indonesia ini telah terpisah selama sekitar 13 juta tahun, sejak pertengahan Miosen, kemungkinan besar disebabkan oleh sejarah tektonik yang kompleks dan arus samudra yang berfungsi sebagai penghalang biogeografis yang persisten. Temuan ini, dikombinasikan dengan bio-ekologi spesies yang sangat terspesialisasi—termasuk harapan hidup hingga 100 tahun, kematangan seksual yang terlambat, dan masa kehamilan lima tahun—menimbulkan implikasi konservasi yang mendesak. Mengelola <em>L. menadoensis</em> sebagai satu unit tunggal di bawah status "Rentan" (<em>Vulnerable</em>) secara berbahaya menutupi risiko kepunahan yang lebih tinggi yang dihadapi oleh masing-masing garis keturunan kuno ini, yang berpotensi memungkinkan salah satu populasi menuju kepunahan tanpa terdeteksi di bawah status gabungan 'Rentan'. Artikel ini menyimpulkan bahwa pengakuan kedua garis keturunan sebagai Unit Konservasi yang terpisah adalah langkah penting untuk memastikan kelangsungan hidup warisan evolusioner unik ini dalam menghadapi ancaman seperti tangkapan sampingan dan potensi penambangan laut dalam.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> <em>Latimeria menadoensis</em>, coelacanth, divergensi genetik, spesies kriptik, konservasi, Indonesia</p> <p>--------------------------------------------------------------------------------</p> <p><strong><sup>1)</sup></strong><strong>ITM Tomohon <sup>2)</sup> FPIK Universitas Sam Ratulangi Manado 95115</strong></p> <p> </p> <p> </p> <p><strong>1. Pendahuluan</strong></p> <p>Coelacanth (genus <em>Latimeria</em>) menempati posisi unik dalam sejarah evolusi sebagai "fosil hidup". Sebagai satu-satunya wakil yang masih hidup dari garis keturunan Sarcopterygii (ikan bersirip lobus) kuno yang berasal lebih dari 400 juta tahun lalu, coelacanth lebih berkerabat dekat dengan tetrapoda (amfibi, reptil, dan mamalia) daripada dengan ikan bersirip pari pada umumnya. Penemuan bersejarah <em>Latimeria chalumnae</em> di lepas pantai Afrika Selatan pada tahun 1938 mengejutkan komunitas ilmiah, yang menganggap garis keturunan ini telah punah bersama dinosaurus sekitar 65 juta tahun yang lalu. Selama beberapa dekade, coelacanth dianggap terbatas di Samudra Hindia bagian barat. Namun, pemahaman ini berubah secara drastis pada tahun 1997 dengan penemuan tak terduga <em>Latimeria menadoensis</em> di sebuah pasar ikan di Sulawesi Utara, Indonesia, yang secara dramatis memperluas distribusi geografis genus ini yang diketahui.</p> <p>Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyintesis pengetahuan terkini mengenai sistematika, bio-ekologi, dan status konservasi <em>L. menadoensis</em>. Penekanan khusus diberikan pada analisis penemuan terbaru mengenai divergensi genetik intramolekuler yang dalam di dalam populasi Indonesia dan implikasinya yang mendesak bagi strategi manajemen konservasi. Bukti yang muncul menunjukkan bahwa <em>L. menadoensis</em> bukanlah satu populasi tunggal yang homogen, melainkan terdiri dari setidaknya dua garis keturunan kuno yang telah terisolasi selama jutaan tahun. Kompleksitas genetik yang tersembunyi ini menuntut peninjauan kembali terhadap pendekatan konservasi saat ini, dimulai dengan evaluasi ulang status taksonomi dan struktur populasi spesies tersebut.</p> <p> </p> <p><strong>2. Sistematika dan Kompleksitas Genetik</strong></p> <p>Analisis genetik telah menjadi alat yang sangat penting dalam mendefinisikan batas-batas spesies, mengungkap struktur populasi yang tersembunyi, dan menginformasikan strategi konservasi. Untuk spesies yang sulit dipahami dan langka seperti coelacanth, yang menghuni habitat laut dalam yang sulit diakses, data molekuler memberikan wawasan yang tak ternilai yang tidak dapat diperoleh melalui pengamatan morfologis semata.</p> <p><strong>2.1 Penemuan dan Penetapan Spesies</strong></p> <p>Penemuan <em>L. menadoensis</em> di Manado Tua, Sulawesi, Indonesia, pada tahun 1997 dan 1998 merupakan sebuah peristiwa penting. Lokasi penemuan ini, yang berjarak hampir 10.000 km dari populasi Afrika yang diketahui, ditambah dengan analisis pola arus laut umum yang mengalir dari Indonesia menuju Samudra Hindia bagian barat, dengan kuat mengindikasikan bahwa ini adalah populasi yang mapan dan persisten, bukan sekadar individu tunggal yang tersesat.</p> <p>Penetapan <em>L. menadoensis</em> sebagai spesies baru pada tahun 1999 didukung oleh bukti molekuler yang meyakinkan. Analisis DNA mitokondria (mtDNA) menunjukkan adanya divergensi sebesar <strong>4,1%</strong> antara <em>L. menadoensis</em> dan <em>L. chalumnae</em>. Tingkat perbedaan genetik ini secara substansial mendukung pemisahan keduanya sebagai spesies yang berbeda. Secara morfologis, perbedaan yang paling mencolok adalah warna tubuh; <em>L. menadoensis</em> berwarna kecoklatan, sementara <em>L. chalumnae</em> berwarna biru. Meskipun beberapa perbedaan morfometrik awal dilaporkan, tinjauan yang lebih luas kemudian menemukan bahwa banyak dari karakter ini berada dalam rentang variasi yang dilaporkan untuk spesimen <em>L. chalumnae</em>, menggarisbawahi pentingnya data genetik dalam memvalidasi status spesiesnya.</p> <p><strong>2.2 Terungkapnya Garis Keturunan Kriptik di Indonesia Timur</strong></p> <p>Pemahaman tentang keragaman genetik <em>L. menadoensis</em> menjadi jauh lebih kompleks dengan penemuan spesimen baru di Papua Barat, sekitar 750 km ke arah timur dari lokasi penemuan asli di Sulawesi. Analisis genetik terhadap spesimen ini mengungkap tingkat divergensi molekuler yang sangat tinggi di dalam populasi yang sama.</p> <p>Perbedaan genetik antara spesimen Papua ini dan spesimen <em>L. menadoensis</em> dari Sulawesi mencapai <strong>1,8%</strong>. Untuk menempatkan angka ini dalam konteks, divergensi genetik intraspesifik di antara individu-individu <em>L. chalumnae</em> di seluruh jangkauan distribusinya di Afrika hanya sebesar <strong>0,04%</strong>. Perbedaan yang luar biasa ini mencakup <strong>149 perbedaan basa</strong> dan <strong>11 perbedaan asam amino</strong> antara kedua individu Indonesia tersebut, yang menunjukkan isolasi genetik yang mendalam dan berkepanjangan. Penemuan ini secara efektif mematahkan gagasan bahwa <em>L. menadoensis</em> adalah satu populasi tunggal yang homogen.</p> <p><strong>2.3 Skenario Biogeografi dan Pemisahan Jutaan Tahun</strong></p> <p>Untuk memahami skala waktu dari pemisahan ini, analisis penanggalan molekuler dilakukan. Hasilnya sangat mengejutkan: kedua garis keturunan coelacanth Indonesia (Sulawesi dan Papua) diperkirakan telah berpisah selama sekitar <strong>13 juta tahun</strong>, sejak pertengahan era Miosen. Pemisahan kuno ini menuntut adanya penjelasan biogeografis yang kuat untuk menjelaskan isolasi yang begitu lama.</p> <p>Para peneliti mengemukakan hipotesis bahwa sejarah tektonik yang kompleks di kawasan Indonesia timur, ditambah dengan pola arus samudra yang kuat, menciptakan penghalang yang efektif dan persisten bagi aliran gen. Secara khusus, <strong>Laut Maluku</strong> dihipotesiskan telah berfungsi sebagai penghalang yang kuat, secara efektif memisahkan populasi di Sulawesi dari populasi di Papua selama jutaan tahun. Kompleksitas genetik yang mendalam ini menjadi semakin genting ketika ditempatkan dalam konteks bio-ekologi spesies yang sangat terspesialisasi, yang akan dibahas selanjutnya.</p> <p> </p> <p><strong>3. Bio-ekologi dan Sejarah Kehidupan</strong></p> <p>Coelacanth adalah spesies yang sangat terspesialisasi. Strategi sejarah kehidupannya yang kuno, yang diasah selama jutaan tahun evolusi, dan persyaratan habitatnya yang ketat secara fundamental membentuk kerentanannya terhadap ancaman modern. Memahami bio-ekologinya sangat penting untuk merancang strategi konservasi yang efektif.</p> <p><strong>3.1 Karakteristik Habitat Mesofotik</strong></p> <p>Coelacanth Indonesia menghuni zona mesofotik, atau "zona senja", di lautan. Habitat khas mereka ditandai oleh lereng vulkanik atau batuan sedimen yang curam, yang dipenuhi dengan gua dan celah bawah laut, pada kedalaman yang biasanya berkisar antara 150 hingga 500 meter. Gua-gua ini kemungkinan besar berfungsi sebagai tempat perlindungan pada siang hari.</p> <p>Salah satu persyaratan habitat yang paling penting adalah suhu. Pengamatan <em>in situ</em> secara konsisten mencatat preferensi coelacanth untuk air yang dingin dan stabil, dengan suhu antara <strong>17°C hingga 20°C</strong>. Kisaran suhu ini secara signifikan lebih dingin daripada perairan permukaan tropis yang hangat, yang dapat mencapai 29–30°C. Ketergantungan pada suhu dingin ini secara efektif membatasi distribusi vertikal dan geografis mereka pada kantung-kantung habitat laut dalam yang sesuai. Penemuan terbaru dari spesimen di Maluku Utara semakin mengkonfirmasi keberadaan habitat yang cocok ini di wilayah timur Indonesia.</p> <p><strong>3.2 Strategi Hidup K-selected Ekstrem</strong></p> <p>Coelacanth menunjukkan salah satu contoh strategi sejarah kehidupan <em>K-selected</em> yang paling ekstrem yang pernah tercatat di antara vertebrata. Strategi ini, yang ditandai dengan pertumbuhan lambat, kematangan terlambat, dan investasi besar pada sedikit keturunan, membuat populasinya sangat rentan terhadap penurunan. Menggunakan data dari <em>L. chalumnae</em> sebagai proksi, ciri-ciri utamanya meliputi:</p> <ul> <li><strong>Usia Harapan Hidup Panjang:</strong> Diperkirakan dapat hidup hingga <strong>100 tahun</strong>.</li> <li><strong>Kematangan Seksual Terlambat:</strong> Kematangan seksual dicapai pada usia yang sangat lanjut, dengan perkiraan terbaru menempatkannya sekitar usia 55 tahun, meskipun rentang yang lebih luas antara 40 hingga 69 tahun juga telah dilaporkan untuk <em>L. chalumnae</em>.</li> <li><strong>Reproduksi Ovovivipar:</strong> Betina tidak bertelur, melainkan melahirkan anak-anak yang hidup dan telah berkembang sempurna, yang disebut "pups".</li> <li><strong>Masa Kehamilan Terpanjang:</strong> Masa kehamilan diperkirakan berlangsung selama <strong>lima tahun</strong>, sebuah penemuan terbaru yang secara dramatis merevisi estimasi sebelumnya dan menjadikannya masa kehamilan terpanjang dari semua vertebrata yang diketahui.</li> </ul> <p>Strategi reproduksi yang sangat lambat ini berarti bahwa populasi coelacanth memiliki kapasitas yang sangat rendah untuk pulih dari penurunan jumlah.</p> <p><strong>3.3 Ekologi Trofik dan Perilaku</strong></p> <p>Sebagai predator, coelacanth adalah pemburu hanyut (<em>drift-hunter</em>) nokturnal yang bergerak lambat. Mereka memanfaatkan arus untuk bergerak perlahan di dekat dasar laut saat mencari makan. Mangsa yang diketahui termasuk sefalopoda (cumi-cumi dan gurita) serta ikan laut dalam lainnya. Perilaku berburu yang hemat energi ini sangat sesuai dengan metabolisme mereka yang sangat lambat.</p> <p>Pengamatan <em>in situ</em> terbaru terhadap <em>L. menadoensis</em> telah memberikan wawasan baru yang menantang asumsi lama. Secara khusus, individu telah diamati di <strong>perairan terbuka pada siang hari</strong>, tidak selalu berada di dalam gua atau di bawah tonjolan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku diurnal mereka mungkin lebih fleksibel daripada yang diperkirakan sebelumnya, meskipun gua tetap menjadi fitur habitat yang penting. Strategi kehidupan yang sangat lambat dan rentan ini, dikombinasikan dengan persyaratan habitat yang ketat, secara langsung berkontribusi pada status konservasi spesies yang genting.</p> <p> </p> <p><strong>4. Status Konservasi dan Implikasi Penemuan Genetik</strong></p> <p>Status konservasi resmi <em>L. menadoensis</em> mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan risiko kepunahan yang sebenarnya, terutama dengan adanya bukti baru mengenai struktur populasi yang sangat kompleks dan terfragmentasi secara kuno.</p> <p><strong>4.1 Status Saat Ini dan Ancaman Utama</strong></p> <p>Saat ini, <em>Latimeria menadoensis</em> terdaftar sebagai <strong>Vulnerable (VU)</strong> dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature). Selain itu, spesies ini tercantum dalam <strong>CITES Appendix I</strong>, yang secara efektif melarang semua perdagangan internasional spesimen untuk tujuan komersial.</p> <p>Ancaman paling signifikan dan langsung yang dihadapi coelacanth Indonesia bukanlah penangkapan yang disengaja, melainkan <strong>tangkapan sampingan (bycatch)</strong>. Ikan-ikan ini secara tidak sengaja terjerat dalam jaring insang laut dalam yang dipasang oleh nelayan yang menargetkan hiu dan ikan komersial lainnya. Mengingat strategi reproduksi yang sangat lambat dari spesies ini, hilangnya bahkan beberapa individu dewasa dapat memiliki dampak yang menghancurkan bagi populasi lokal.</p> <p>Ancaman lain yang muncul dan berpotensi merusak meliputi:</p> <ul> <li><strong>Perusakan Habitat:</strong> Pembangunan pesisir dan polusi dapat berdampak pada ekosistem laut dalam.</li> <li><strong>Polusi:</strong> Sampah plastik dan polutan kimia lainnya dapat terakumulasi di lingkungan laut dalam.</li> <li><strong>Penambangan Laut Dalam:</strong> Eksplorasi dan eksploitasi mineral di masa depan dapat secara langsung menghancurkan habitat mesofotik yang rapuh, menghasilkan sedimen yang dapat menyumbat insang, dan menimbulkan polusi suara yang mengganggu.</li> </ul> <p><strong>4.2 Implikasi Dua Garis Keturunan untuk Konservasi</strong></p> <p>Penemuan dua garis keturunan genetik yang telah terpisah selama 13 juta tahun secara fundamental mengubah lanskap konservasi untuk <em>L. menadoensis</em>. Mengelola kedua populasi ini sebagai satu unit tunggal adalah pendekatan yang sangat keliru dan berbahaya.</p> <p>Secara ilmiah dan praktis, kedua garis keturunan ini—satu di sekitar Sulawesi dan yang lainnya di Indonesia Timur (Papua/Maluku)—harus diperlakukan sebagai <strong>Unit Konservasi terpisah</strong>, atau lebih tepatnya sebagai Unit Evolusioner Signifikan (ESU). ESU didefinisikan sebagai populasi yang cukup berbeda secara genetik sehingga layak mendapatkan manajemen dan status konservasi yang terpisah.</p> <p>Menggabungkan kedua garis keturunan yang sangat berbeda ini di bawah satu status konservasi "Vulnerable" secara efektif <strong>menutupi risiko kepunahan yang sebenarnya</strong>. Sangat mungkin salah satu atau kedua garis keturunan ini menghadapi tingkat ancaman yang jauh lebih tinggi daripada yang tersirat dari status gabungan. Misalnya, jika populasi di Indonesia Timur jauh lebih kecil atau lebih sering tertangkap sebagai bycatch daripada populasi di Sulawesi, status gabungan "Vulnerable" tidak akan mencerminkan risiko "Sangat Terancam Punah" (Critically Endangered) yang mungkin dihadapinya. Kegagalan untuk mengakui dan mengelola unit-unit ini secara terpisah dapat menyebabkan hilangnya salah satu cabang tertua di pohon kehidupan vertebrata secara diam-diam, yang menuntut tinjauan ulang yang mendesak terhadap strategi konservasi.</p> <p> </p> <p><strong>5. Diskusi</strong></p> <p>Penemuan-penemuan terbaru mengenai <em>Latimeria menadoensis</em> telah secara dramatis memperdalam pemahaman kita, mengubahnya dari sekadar keanehan biogeografis menjadi sebuah studi kasus yang menarik tentang evolusi kriptik, biogeografi laut dalam, dan urgensi konservasi yang berbasis genetik. Sintesis dari temuan-temuan ini menempatkan coelacanth Indonesia dalam konteks yang lebih luas dari biologi evolusioner dan konservasi global.</p> <p><strong>5.1 Sintesis Divergensi Genetik </strong></p> <p>Divergensi selama 13 juta tahun di dalam apa yang saat ini diakui sebagai satu spesies tunggal adalah sebuah penemuan yang luar biasa. Fenomena ini menempatkan coelacanth Indonesia sebagai contoh utama dari <strong>spesies kriptik</strong>—dua atau lebih spesies yang berbeda secara genetik tetapi secara morfologis sulit dibedakan, sebuah kesimpulan yang diperkuat oleh pengamatan awal bahwa banyak perbedaan morfometriknya berada dalam rentang variasi <em>L. chalumnae</em>. Temuan ini secara eksplisit menantang gagasan bahwa coelacanth adalah "fosil hidup" yang statis secara evolusioner. Sebaliknya, bukti ini menunjukkan paradoks yang menarik: sementara laju evolusi morfologis garis keturunan ini tampak lambat selama jutaan tahun, genomnya tidak statis. Divergensi 13 juta tahun di tingkat molekuler membuktikan bahwa dinamika evolusioner yang signifikan terus berlanjut. Berdasarkan tingkat perbedaan genetik yang diamati, hipotesis bahwa garis keturunan timur (Papua/Maluku) <strong>"kemungkinan merupakan spesies baru yang masih harus dideskripsikan"</strong> adalah kesimpulan yang masuk akal dan didukung oleh data, yang menuntut dilakukannya tinjauan taksonomi formal.</p> <p> <strong>5.2 Arah Penelitian Masa Depan: Dari Genomik hingga eDNA</strong></p> <p>Untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan yang masih ada dan untuk menginformasikan tindakan konservasi yang efektif, beberapa prioritas penelitian di masa depan menjadi sangat jelas. Pertama, <strong>analisis genomik yang diperluas</strong> sangat penting. Meskipun data mtDNA telah memberikan bukti kuat adanya divergensi, analisis DNA inti (nDNA) diperlukan untuk mengkonfirmasi status spesies dari kedua garis keturunan dan untuk menyelidiki apakah aliran gen yang dimediasi oleh pejantan, meskipun kecil kemungkinannya, mungkin masih terjadi.</p> <p>Kedua, pemanfaatan <strong>teknik non-invasif seperti DNA lingkungan (eDNA)</strong> memiliki potensi yang sangat besar. Pengembangan baru-baru ini primer spesifik-genus (<em>Lati602F</em> dan <em>Lati776R</em>), yang dirancang untuk secara andal mendeteksi DNA dari kedua spesies <em>Latimeria</em> yang diketahui, merupakan sebuah terobosan. Metode eDNA, yang melibatkan penyaringan DNA yang dilepaskan oleh organisme dari sampel air, memungkinkan para ilmuwan untuk mendeteksi keberadaan spesies yang sulit dipahami tanpa perlu melihat atau menangkapnya. Dengan menggunakan primer ini, para peneliti dapat secara efisien dan hemat biaya memetakan distribusi kedua garis keturunan coelacanth Indonesia di seluruh kepulauan yang luas, yang sangat penting untuk mengidentifikasi habitat-habitat penting dan menilai tumpang tindih dengan aktivitas manusia.</p> <p> </p> <p><strong>6. Kesimpulan</strong></p> <p>Bukti yang terkumpul secara meyakinkan menunjukkan bahwa <em>Latimeria menadoensis</em> bukanlah satu populasi tunggal yang homogen, melainkan sebuah kompleks yang terdiri dari setidaknya dua garis keturunan kuno yang sangat berbeda. Dengan perkiraan waktu pemisahan sekitar 13 juta tahun, populasi di Sulawesi dan Indonesia Timur (Papua/Maluku) mewakili cabang-cabang yang berbeda secara mendalam di pohon kehidupan. Kegagalan untuk mengakui perbedaan ini dalam kerangka kerja konservasi saat ini secara signifikan meremehkan risiko kepunahan yang dihadapi oleh masing-masing garis keturunan yang unik secara evolusioner ini. Oleh karena itu, konservasi yang efektif menuntut pengakuan dan pengelolaan kedua garis keturunan ini sebagai unit yang terpisah dan berbeda. Kegagalan untuk bertindak berdasarkan bukti genetik ini akan menjadi kelalaian yang tidak dapat dimaafkan, yang berisiko menghapus setengah dari warisan coelacanth Indonesia—sebuah cabang pohon kehidupan yang telah bertahan selama lebih dari 13 juta tahun—secara diam-diam dan permanen.</p> <p> </p> <p><strong>Daftar Pustaka</strong></p> <p>Chappuis, A., Hendrawan, I. G., Achmad, M. J., Clément, G., Erdmann, M. V., Hukom, F. D., Leblond, J., & Limmon, G. V. (2025). First record of a living coelacanth from North Maluku, Indonesia. <em>Scientific Reports</em>, <em>15</em>, 14074. <a href="https://doi.org/10.1038/s41598-025-90287-7">https://doi.org/10.1038/s41598-025-90287-7</a></p> <p>Holder, M. T., Erdmann, M. V., Wilcox, T. P., Caldwell, R. L., & Hillis, D. M. (1999). Two living species of coelacanths? <em>Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America</em>, <em>96</em>(22), 12616–12620. <a href="https://doi.org/10.1073/pnas.96.22.12616">https://doi.org/10.1073/pnas.96.22.12616</a></p> <p>Kadarusman, Sugeha, H. Y., Pouyaud, L., Hocdé, R., Hismayasari, I. B., Gunaisah, E., Widiarto, S. B., Arafat, G., Widyasari, F., Mouillot, D., & Paradis, E. (2020). A thirteen-million-year divergence between two lineages of Indonesian coelacanths. <em>Scientific Reports</em>, <em>10</em>(1), 192. <a href="https://doi.org/10.1038/s41598-019-57042-1">https://doi.org/10.1038/s41598-019-57042-1</a></p> <p>NOAA Fisheries. (2025, 11 Agustus). <em>African Coelacanth</em>. U.S. Department of Commerce. Diakses dari <a href="https://www.fisheries.noaa.gov/species/african-coelacanth">https://www.fisheries.noaa.gov/species/african-coelacanth</a></p> <p>Oliver, J.-C., Shum, P., Mariani, S., Sink, K. J., Palmer, R., & Matcher, G. F. (2024). Enhancing African coelacanth monitoring using environmental DNA. <em>Biology Letters</em>, <em>20</em>(10), 20240415. <a href="https://doi.org/10.1098/rsbl.2024.0415">https://doi.org/10.1098/rsbl.2024.0415</a></p> <p>Pouyaud, L., Wirjoatmodjo, S., Rachmatika, I., Tjakrawidjaja, A., Hadiaty, R., & Hadie, W. (1999). Une nouvelle espèce de cœlacanthe. Preuves génétiques et morphologiques. <em>Comptes Rendus de l’Académie des Sciences - Series III - Sciences de la Vie</em>, <em>322</em>(4), 261–267. <a href="https://doi.org/10.1016/S0764-4469(99)80061-4">https://doi.org/10.1016/S0764-4469(99)80061-4</a></p> <p>Spampinato, E. (2025, 7 November). Deep-sea mining waste could devastate ocean food chain, impact fisheries globally, Hawai'i research finds. <em>SeafoodSource</em>. Diakses dari <a href="https://www.seafoodsource.com/news/environment-sustainability/study-deep-sea-mining-waste-could-impact-fisheries-globally">https://www.seafoodsource.com/news/environment-sustainability/study-deep-sea-mining-waste-could-impact-fisheries-globally</a></p> <p>Wikipedia contributors. (2025, September). <em>Latimeria</em>. Wikipedia, The Free Encyclopedia. Diakses pada 15 November 2025, dari <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Latimeria">https://en.wikipedia.org/wiki/Latimeria</a></p> <p> </p>