Guardat en:
| Autor principal: | |
|---|---|
| Format: | Recurso digital |
| Idioma: | |
| Publicat: |
Zenodo
2026
|
| Matèries: | |
| Accés en línia: | https://doi.org/10.5281/zenodo.19083569 |
| Etiquetes: |
Afegir etiqueta
Sense etiquetes, Sigues el primer a etiquetar aquest registre!
|
Taula de continguts:
- <p>Materi presentasi ini menyajikan analisis kritis berbasis Antropologi Ekologi terhadap fenomena krisis lingkungan kontemporer di Indonesia yang didefinisikan sebagai "Bencana Antropogenik". Intisari paparan ini mendekonstruksi akar masalah bencana ekologis yang sering kali dipandang secara teknokratis, dengan mengungkap adanya hegemoni pengetahuan <em>top-down</em> yang memisahkan masyarakat lokal dari ekosistemnya.</p> <p>Melalui konsep "Sedhakep Angawe-Awe", penulis membedah paradoks kebijakan kehutanan di Jawa yang mengakibatkan alienasi sosiokultural dan transformasi "jaringan sosial" penjaga hutan menjadi "jaringan eksploitasi". Bahan tayang ini juga menyajikan data krusial mengenai kehilangan 10,5 juta hektare hutan primer Indonesia (2002-2023) dan beban ekonomi pascabencana yang mencapai Rp 68,67 Triliun sebagai bukti kegagalan paradigma <em>weak sustainability</em>. Sebagai solusi, penulis menawarkan urgensi transformasi menuju <em>Strong Sustainability</em> dengan menempatkan ekologi sebagai panglima, serta pentingnya mensinergikan riset modern dengan etika lingkungan lokal (seperti model Satoyama atau Maori) untuk menjamin hak konstitusional ekologis warga negara.</p>