Enregistré dans:
Détails bibliographiques
Auteur principal: Beltsazar, Andreas Justicia
Format: Recurso digital
Langue:indonésien
Publié: Zenodo 2026
Sujets:
Accès en ligne:https://doi.org/10.5281/zenodo.19789701
Tags: Ajouter un tag
Pas de tags, Soyez le premier à ajouter un tag!
_version_ 1866901144159125504
author Beltsazar, Andreas Justicia
author_facet Beltsazar, Andreas Justicia
contents <p>Tulisan ini berangkat dari kritik terhadap cara umum memahami pengangguran sebagai persoalan individu. Dengan meminjam kerangka tentara cadangan pekerja dari Karl Marx, artikel ini berargumen bahwa pengangguran justru merupakan bagian dari desain struktural dalam sistem ekonomi yang membutuhkan ketersediaan tenaga kerja berlebih. Keberadaan cadangan tenaga kerja ini berfungsi menekan upah, melemahkan posisi tawar pekerja, serta memberi fleksibilitas bagi perusahaan dalam mengelola produksi.<br>Analisis kemudian diperluas pada fenomena outsourcing dan dominasi sektor informal di Indonesia. Praktik alih daya dan pekerjaan tidak tetap menunjukkan bagaimana ketidakpastian kerja dinormalisasi, sementara risiko ekonomi dialihkan kepada pekerja. Dalam konteks ini, banyak individu tidak sepenuhnya menganggur, tetapi juga tidak memiliki jaminan kerja yang layak. Mereka berada dalam posisi rentan yang secara fungsional menopang stabilitas pasar kerja.<br>Tulisan ini juga menyoroti paradoks pekerjaan esensial. Pekerjaan yang secara sosial sangat penting seperti kebersihan, logistik, dan layanan publik—justru kerap tidak dihargai secara ekonomi maupun sosial di Indonesia. Berbeda dengan negara maju yang telah memprofesionalkan sektor tersebut melalui standar kerja, perlindungan, dan pengakuan institusional, pekerjaan serupa di Indonesia masih sering diposisikan sebagai pekerjaan pinggiran dengan status yang tidak stabil.<br>Dengan menggunakan pendekatan Ekonomi Politik, tulisan ini menyimpulkan bahwa pengangguran, outsourcing, dan rendahnya penghargaan terhadap pekerjaan esensial merupakan fenomena yang saling berkaitan dalam satu desain sistemik. Oleh karena itu, solusi tidak cukup difokuskan pada peningkatan kapasitas individu, tetapi harus menyentuh perombakan struktur pasar kerja, penguatan regulasi, serta perubahan cara pandang terhadap nilai kerja itu sendiri.</p>
format Recurso digital
id zenodo_https___doi_org_10_5281_zenodo_19789701
institution Zenodo
language ind
publishDate 2026
publisher Zenodo
record_format zenodo
spellingShingle Pengangguran Bukan Takdir: Siapa yang Diuntungkan dari Krisis Kerja?
Beltsazar, Andreas Justicia
(4-(m-Chlorophenylcarbamoyloxy)-2-butynyl)trimethylammonium Chloride
<p>Tulisan ini berangkat dari kritik terhadap cara umum memahami pengangguran sebagai persoalan individu. Dengan meminjam kerangka tentara cadangan pekerja dari Karl Marx, artikel ini berargumen bahwa pengangguran justru merupakan bagian dari desain struktural dalam sistem ekonomi yang membutuhkan ketersediaan tenaga kerja berlebih. Keberadaan cadangan tenaga kerja ini berfungsi menekan upah, melemahkan posisi tawar pekerja, serta memberi fleksibilitas bagi perusahaan dalam mengelola produksi.<br>Analisis kemudian diperluas pada fenomena outsourcing dan dominasi sektor informal di Indonesia. Praktik alih daya dan pekerjaan tidak tetap menunjukkan bagaimana ketidakpastian kerja dinormalisasi, sementara risiko ekonomi dialihkan kepada pekerja. Dalam konteks ini, banyak individu tidak sepenuhnya menganggur, tetapi juga tidak memiliki jaminan kerja yang layak. Mereka berada dalam posisi rentan yang secara fungsional menopang stabilitas pasar kerja.<br>Tulisan ini juga menyoroti paradoks pekerjaan esensial. Pekerjaan yang secara sosial sangat penting seperti kebersihan, logistik, dan layanan publik—justru kerap tidak dihargai secara ekonomi maupun sosial di Indonesia. Berbeda dengan negara maju yang telah memprofesionalkan sektor tersebut melalui standar kerja, perlindungan, dan pengakuan institusional, pekerjaan serupa di Indonesia masih sering diposisikan sebagai pekerjaan pinggiran dengan status yang tidak stabil.<br>Dengan menggunakan pendekatan Ekonomi Politik, tulisan ini menyimpulkan bahwa pengangguran, outsourcing, dan rendahnya penghargaan terhadap pekerjaan esensial merupakan fenomena yang saling berkaitan dalam satu desain sistemik. Oleh karena itu, solusi tidak cukup difokuskan pada peningkatan kapasitas individu, tetapi harus menyentuh perombakan struktur pasar kerja, penguatan regulasi, serta perubahan cara pandang terhadap nilai kerja itu sendiri.</p>
title Pengangguran Bukan Takdir: Siapa yang Diuntungkan dari Krisis Kerja?
topic (4-(m-Chlorophenylcarbamoyloxy)-2-butynyl)trimethylammonium Chloride
url https://doi.org/10.5281/zenodo.19789701