Moderasi Beragama Suhu, Ngonten Agama Cupu? Penyuluh Agama di Media Sosial
Fuente:
Zenodo
Gespeichert in:
| Hauptverfasser: | , , |
|---|---|
| Format: | Recurso digital |
| Veröffentlicht: |
Zenodo
2024
|
| Schlagworte: | |
| Online-Zugang: | |
| Tags: |
Tag hinzufügen
Keine Tags, Fügen Sie den ersten Tag hinzu!
|
| _version_ | 1866902010827112448 |
|---|---|
| author | Epafras, Leonard Chrysostomos pratisti, aliyuna Kaunang, Hendrikus Paulus |
| author_facet | Epafras, Leonard Chrysostomos pratisti, aliyuna Kaunang, Hendrikus Paulus |
| contents | <p>Download the paper at: <a href="https://s.id/R8PhF">https://s.id/R8PhF</a></p> <p>The present paper is a preliminary report of the ongoing research project regarding the digital performance and the agency of religious extension officers (Penyuluh Agama) in social media. About sixty-seven thousand Penyuluh, representing six religions in the state service, is on the frontline of the massive campaign of religious moderation (moderasi beragama) organized by the Ministry of Religious Affairs. They are the sole body with religious competence dealing with the increasing religious conservatism, radicalism, and extremism. The paper describes the complexity of the position of Penyuluh within the challenge of religious extremism, the execution of a religious moderation campaign, and social media engagement. The initial findings demonstrate the digital divide context, the tendency of Penyuluh to reproduce the structure, hence limit their agency, limited digital mastery and digital literacy of many of Penyuluh, fragmented institutional information system, and the vulnerability of instant messenger engagement that prone to epistemic bubble and echo chamber effects. <br>-------<br>Makalah ini adalah laporan awal penelitian yang masih berlangsung mengenai unjuk kerja Penyuluh Agama di dunia digital, serta memahami posisi agensi mereka di media sosial. Kurang lebih terdapat enam puluh tujuh ribu Penyuluh dari enam agama yang dilayani negara, menjadi garda terdepan dalam kampanye masif moderasi beragama yang dikoordinir Kementerian Agama. Penyuluh adalah satusatunya agen negara dengan jumlah signifikan yang memiliki kompetensi agama dalam menghadapi meningkatnya konservatisme, radikalisme dan ekstremisme agama. Makalah ini memaparkan dinamika dan kerumitan posisi Penyuluh dalam menangkal ekstremisme agama dan dalam menjalankan peran penting kampanye moderasi agama, sekaligus keaktifan memanfaatkan media sosial. Temuan awal penelitian ini menunjukkan masih nyatanya kondisi kesenjangan digital (digital divide), kecenderungan Penyuluh untuk sekedar mereproduksi struktur sehingga agensi mereka lemah, keterbatasan kapasitas memanfaatkan teknologi digital dan literasi digital, sistem informasi pendukung yang masih terfragmentasi, dan rentannya teknologi populer Instant Messenger seperti Whatsapp menjadi ruang epistemic bubble dan echo chamber. Kondisi terakhir ini memberi peluang pada dominasi wacana tunggal oleh aktor-aktor dominan.</p> |
| format | Recurso digital |
| id | zenodo_https___doi_org_10_5281_zenodo_14211062 |
| institution | Zenodo |
| language | |
| publishDate | 2024 |
| publisher | Zenodo |
| record_format | zenodo |
| spellingShingle | Moderasi Beragama Suhu, Ngonten Agama Cupu? Penyuluh Agama di Media Sosial Epafras, Leonard Chrysostomos pratisti, aliyuna Kaunang, Hendrikus Paulus Penyuluh Agama Religious Extension Officers Religion Online Online Religion Religion and Social Media Religious Moderation Moderasi Beragama <p>Download the paper at: <a href="https://s.id/R8PhF">https://s.id/R8PhF</a></p> <p>The present paper is a preliminary report of the ongoing research project regarding the digital performance and the agency of religious extension officers (Penyuluh Agama) in social media. About sixty-seven thousand Penyuluh, representing six religions in the state service, is on the frontline of the massive campaign of religious moderation (moderasi beragama) organized by the Ministry of Religious Affairs. They are the sole body with religious competence dealing with the increasing religious conservatism, radicalism, and extremism. The paper describes the complexity of the position of Penyuluh within the challenge of religious extremism, the execution of a religious moderation campaign, and social media engagement. The initial findings demonstrate the digital divide context, the tendency of Penyuluh to reproduce the structure, hence limit their agency, limited digital mastery and digital literacy of many of Penyuluh, fragmented institutional information system, and the vulnerability of instant messenger engagement that prone to epistemic bubble and echo chamber effects. <br>-------<br>Makalah ini adalah laporan awal penelitian yang masih berlangsung mengenai unjuk kerja Penyuluh Agama di dunia digital, serta memahami posisi agensi mereka di media sosial. Kurang lebih terdapat enam puluh tujuh ribu Penyuluh dari enam agama yang dilayani negara, menjadi garda terdepan dalam kampanye masif moderasi beragama yang dikoordinir Kementerian Agama. Penyuluh adalah satusatunya agen negara dengan jumlah signifikan yang memiliki kompetensi agama dalam menghadapi meningkatnya konservatisme, radikalisme dan ekstremisme agama. Makalah ini memaparkan dinamika dan kerumitan posisi Penyuluh dalam menangkal ekstremisme agama dan dalam menjalankan peran penting kampanye moderasi agama, sekaligus keaktifan memanfaatkan media sosial. Temuan awal penelitian ini menunjukkan masih nyatanya kondisi kesenjangan digital (digital divide), kecenderungan Penyuluh untuk sekedar mereproduksi struktur sehingga agensi mereka lemah, keterbatasan kapasitas memanfaatkan teknologi digital dan literasi digital, sistem informasi pendukung yang masih terfragmentasi, dan rentannya teknologi populer Instant Messenger seperti Whatsapp menjadi ruang epistemic bubble dan echo chamber. Kondisi terakhir ini memberi peluang pada dominasi wacana tunggal oleh aktor-aktor dominan.</p> |
| title | Moderasi Beragama Suhu, Ngonten Agama Cupu? Penyuluh Agama di Media Sosial |
| topic | Penyuluh Agama Religious Extension Officers Religion Online Online Religion Religion and Social Media Religious Moderation Moderasi Beragama |
| url | https://doi.org/10.5281/zenodo.14211062 |