Rekonfigurasi Rasa-Nalar Lewat Politik-Estetika Pakarena (Ringkasan Disertasi)

Fuente: Zenodo
Guardado en:
Detalles Bibliográficos
Autor principal: Palippui, Irfan
Formato: Recurso digital
Publicado: Zenodo 2021
Materias:
Acceso en línea:
Etiquetas: Agregar Etiqueta
Sin Etiquetas, Sea el primero en etiquetar este registro!
_version_ 1866901658620919808
author Palippui, Irfan
author_facet Palippui, Irfan
contents <p>Disertasi ini mengkaji Pakarena, pertunjukan seni tradisional dari Makassar, bukan hanya sebagai tarian indah di panggung, tetapi sebagai sebuah tindakan politik yang merekonfigurasi cara masyarakat merasakan dan memahami kehidupan mereka. Melalui pendekatan etnografi baru dan metode life history dengan narasumber utama para guru Pakarena (Anrongguru), peneliti menemukan bahwa Pakarena Kampung—khususnya pertunjukan semalam suntuk dan proses pembelajaran di sanggar seni—berfungsi sebagai arena redistribusi "rasa-nalar" (sensible) yang selama ini dikontrol oleh tatanan kekuasaan. Pertunjukan Pakarena menciptakan ruang setara antara pemain dan penonton di mana suara-suara yang terabaikan (petani, pengrajin, dan subjek marginal lainnya) dapat terdengar dan terlihat, sekaligus membebaskan (emansipasi) mereka dari dominasi persepsi lama. Penelitian ini menggunakan konsep-konsep Jacques Rancière tentang rezim seni dan disensus, serta teori subjektivitas Jacques Lacan, untuk menunjukkan bahwa seni dan politik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan—di mana Pakarena setiap kali digelar merupakan momentum oposisi berkelanjutan terhadap ruang beku kekuasaan, dan sekaligus membuka kemungkinan-kemungkinan hidup yang lebih bebas dan setara.</p>
format Recurso digital
id zenodo_https___doi_org_10_5281_zenodo_18518076
institution Zenodo
language
publishDate 2021
publisher Zenodo
record_format zenodo
spellingShingle Rekonfigurasi Rasa-Nalar Lewat Politik-Estetika Pakarena (Ringkasan Disertasi)
Palippui, Irfan
Pakarena, Politik-Estetika, Rasa-Nalar, Emansipasi, Rekonfigurasi, Seni Pertunjukan, Disensus
<p>Disertasi ini mengkaji Pakarena, pertunjukan seni tradisional dari Makassar, bukan hanya sebagai tarian indah di panggung, tetapi sebagai sebuah tindakan politik yang merekonfigurasi cara masyarakat merasakan dan memahami kehidupan mereka. Melalui pendekatan etnografi baru dan metode life history dengan narasumber utama para guru Pakarena (Anrongguru), peneliti menemukan bahwa Pakarena Kampung—khususnya pertunjukan semalam suntuk dan proses pembelajaran di sanggar seni—berfungsi sebagai arena redistribusi "rasa-nalar" (sensible) yang selama ini dikontrol oleh tatanan kekuasaan. Pertunjukan Pakarena menciptakan ruang setara antara pemain dan penonton di mana suara-suara yang terabaikan (petani, pengrajin, dan subjek marginal lainnya) dapat terdengar dan terlihat, sekaligus membebaskan (emansipasi) mereka dari dominasi persepsi lama. Penelitian ini menggunakan konsep-konsep Jacques Rancière tentang rezim seni dan disensus, serta teori subjektivitas Jacques Lacan, untuk menunjukkan bahwa seni dan politik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan—di mana Pakarena setiap kali digelar merupakan momentum oposisi berkelanjutan terhadap ruang beku kekuasaan, dan sekaligus membuka kemungkinan-kemungkinan hidup yang lebih bebas dan setara.</p>
title Rekonfigurasi Rasa-Nalar Lewat Politik-Estetika Pakarena (Ringkasan Disertasi)
topic Pakarena, Politik-Estetika, Rasa-Nalar, Emansipasi, Rekonfigurasi, Seni Pertunjukan, Disensus
url https://doi.org/10.5281/zenodo.18518076