Wawancara Imajiner dengan Karaeng Naba

Fuente: Zenodo
Saved in:
Bibliographic Details
Main Author: Palippui, Irfan
Format: Recurso digital
Published: Zenodo 2026
Online Access:
Tags: Add Tag
No Tags, Be the first to tag this record!
_version_ 1866901949514776576
author Palippui, Irfan
author_facet Palippui, Irfan
contents <div> <div> <p>Penelitian ini merupakan sebuah narasi wawancara imajiner karya Irfan Palippui yang menggali sejarah hidup <strong>Abdul Sulaiman Daeng Mangalle</strong>, yang lebih dikenal sebagai <strong>Karaeng Naba</strong> atau <strong>Daeng Naba</strong>, seorang putra Sultan Hasanuddin yang menjadi bagian dari eksodus besar-besaran bangsawan Makassar ke tanah Jawa pasca-Perang Makassar (1666–1669). Melalui dialog imaginer ini, terungkap perjalanan hidupnya mulai dari kelahiran di Gowa pada 1663, pengalamannya menyamar sebagai pemimpin brigade elit kompeni di Batavia untuk menyelidiki siasat politik Belanda, hingga hubungannya dengan saudaranya, <strong>Karaeng Galesong</strong> (I Maninrori), yang bertempur di pihak Trunojoyo dalam konflik Mataram. Narasi ini tidak hanya mendokumentasikan strategi militer dan politik adu domba VOC yang memecah belah kekuatan lokal di Jawa dan Sulawesi, tetapi juga memberikan konteks emosional mengenai <em>Siri'</em> (harga diri) serta kesetiaan para pejuang diaspora Makassar yang pada akhirnya memilih untuk menetap dan dimakamkan di Mlati, Sleman, sebagai bentuk penolakan untuk takluk sepenuhnya</p> </div> </div>
format Recurso digital
id zenodo_https___doi_org_10_5281_zenodo_18574055
institution Zenodo
language
publishDate 2026
publisher Zenodo
record_format zenodo
spellingShingle Wawancara Imajiner dengan Karaeng Naba
Palippui, Irfan
<div> <div> <p>Penelitian ini merupakan sebuah narasi wawancara imajiner karya Irfan Palippui yang menggali sejarah hidup <strong>Abdul Sulaiman Daeng Mangalle</strong>, yang lebih dikenal sebagai <strong>Karaeng Naba</strong> atau <strong>Daeng Naba</strong>, seorang putra Sultan Hasanuddin yang menjadi bagian dari eksodus besar-besaran bangsawan Makassar ke tanah Jawa pasca-Perang Makassar (1666–1669). Melalui dialog imaginer ini, terungkap perjalanan hidupnya mulai dari kelahiran di Gowa pada 1663, pengalamannya menyamar sebagai pemimpin brigade elit kompeni di Batavia untuk menyelidiki siasat politik Belanda, hingga hubungannya dengan saudaranya, <strong>Karaeng Galesong</strong> (I Maninrori), yang bertempur di pihak Trunojoyo dalam konflik Mataram. Narasi ini tidak hanya mendokumentasikan strategi militer dan politik adu domba VOC yang memecah belah kekuatan lokal di Jawa dan Sulawesi, tetapi juga memberikan konteks emosional mengenai <em>Siri'</em> (harga diri) serta kesetiaan para pejuang diaspora Makassar yang pada akhirnya memilih untuk menetap dan dimakamkan di Mlati, Sleman, sebagai bentuk penolakan untuk takluk sepenuhnya</p> </div> </div>
title Wawancara Imajiner dengan Karaeng Naba
url https://doi.org/10.5281/zenodo.18574055